Rabu, 31 Juli 2013

Masa Kanak-kanak


BAB I
PEMBAHASAN


A. Pengertian Masa Kanak-kanak
Masa kanak-kanak disebut pula masa pra sekolah (preschool age). Disebut masa pra sekolah, karena pada masa ini anak-anak belum masuk sekolah. Ada anak-anak yang masuk Taman Kanak-kanak pada masa ini, akan tetapi belum bisa dikategorikan sebagai anak sekolah, sebab Taman Kanak-kanak itu
sendiri bukan lembaga sekolah melainkan lembaga pra sekolah.

B. Perkembangan Fisik dan Motorik
Pertumbuhan bagian kepala masih relatif lebih lambat dibanding dengan pertumbuhan badan sebagai keseluruhan, sehingga pada umur 6 tahun proporsi kepala sekitar 1/7 dari bagian badan secara keseluruhan.
            Pada umur 2 tahun anak telah mempunyai 4-6 buah gigi. Pada umur 5 tahun biasanya anak telah mempunyai 28 gigi. Gigi anak-anak itu adalah merupakan gigi-gigi sementara yang disebut gigi susu. Pada umur 6 tahun atau 7 tahun biasanya mulai terjadi pergantian gigi dari gigi susu menjadi gigi tetap. (Soesilo Windradini,74).
            Pada akhir bulan ke 13 atau 14 biasanya anak-anak sudah bisa berjalan sendiri dengan baik. Setelah bisa berjalan dengan baik biasanya ia juga akan mencoba untuk berjalan dengan mundur (sekitar umur 17 bulan). Sekitar umur 18 bulan anak mulai belajar berlari, dan sekitar umur 2 ½ tahun anak sudah bisa berlari dengan baik. Disamping belajar berlari anak juga belajar menaiki dan menuruni tangga. Kemampuan untuk naik turun tangga sudah bisa dikuasai sekitar umur 3 tahun.
Awal masa kanak-kanak merupakan masa yang paling baik untuk mempelajari keterampilan tertentu, karena tiga alasan, yakni :
1)      Anak senang mengulang-ulang, sehingga dengan senang hati mau mengulang suatu aktivitas sampai terampil.
2)      Anak-anak bersifat pemberani, sehingga tidak terhambat rasa takut kalau mengalami sakit atau diejek teman-teman sebagaimana ditakuti oleh anak yang lebih besar.
3)      Anak mudah dan cepat belajar karena tubuh mereka masih lentur dan keterampilan yang dimiliki baru sedikit, sehingga keterampilan yang baru dikuasai tidak mengganggu keterampilan yang sudah ada.
Keterampilan umum yang sering dilakukan anak-anak biasanya menyangkut keterampilan tangan dan kaki. Keterampilan dalam aktivitas makan dan berpakaian sendiri biasanya dimulai pada masa bayi dan disempurnakan pada masa kanak-kanak awal.  Kemajuan terbesar keterampilan berpakaian antara usia 1,5 dan 3,5 tahun. Pada saat anak-anak mencapai usia Taman Kanak-kanak, mereka sudah harus dapat mandi dan berpakaian sendiri, mengikat tali sepatu dan menyisir rambut dengan sedikit bantuan atau tanpa bantuan sama sekali.
Antara usia 5 dan 6 tahun sebagian besar anak-anak sudah pandai melempar dan menangkap bola. Mereka dapat menggunakan gunting, dapat membentuk tanah liat, bermain membuat kue-kue dan menjahit, mewarnai dan menggambar dengan pensil atau krayon. Mereka juga sudah dapat menggambar orang. Antara usia 3 – 4 tahun anak dapat mempelajari sepeda roda tiga dan berenang.
Usia 5 atau 6 tahun anak belajar melompat dan berlari cepat, dan mereka sudah dapat memanjat. Keterampilan kaki lain yang dikuasai anak adalah lompat tali, keseimbangan tubuh dalam berjalan di atas dinding atau pagar, sepatu roda, bermain sepatu es, menari.

C. Perkembangan Bahasa
            Menurut Charlotte Buhler, bahasa mempunyai tiga fungsi, yaitu: kundgabe, auslosung, dan darstelung. Fungsi kundgabe artinya bahwa bahasa itu berfungsi untuk menyatakan keadaan jiwa. Misalnya apabila dimalam gelap kaki kita terantuk suatu benda, maka secara spontan kita akan berteriak “aduh”. Teriakan tersebut merupakan ekspresi spontan tanpa ditujukan kepada siapapun. Fungsi bahasa seperti ini juga terdapat pada binatang.
            Fungsi auslosung artinya bahwa bahasa itu berfungsi untuk mempengaruhi orang lain. Misalnya teriakan “tolong”. Teriakan tersebut ditujukan kepada pihak lain agar pihak lain bersedia memberi pertolongan. Fungsi bahasa ini juga terdapat pada binatang. Misalnya suara induk ayam memanggil anak-anaknya. Sedangkan fungsi darstelung artinya bahwa bahasa itu berfungsi untuk menyampaikan suatu informasi atau pendapat. Misalnya “benda ini bernama kursi”. “kursi ini sangat bagus” (Agus Suryanto, 1984:28).
            Perkembangan bahasa erat kaitannya dengan perkembangan berpikir. Charlote Buhler mengatakan bahwa bahasa adalah pikiran yang diucapkan, sedangkan berpikir adalah berbahasa di dalam hati.
            Dalam bab terdahulu telah disinggung, bahwa tangis bayi memiliki fungsi untuk melatih otot-otot suara, agar bayi bisa bersuara. Tangis-tangis bayi juga selanjutnya berfungsi sebagai bahasa, yaitu fungsi kundgabe dan fungsi auslosung. Adapun perkembangan bahasa selanjutnya adalah sebagai berikut:
a. Masa Meraban
            Masa meraban adalah suatu masa ketika bayi mengucapkan suara-suara yang tidak memiliki arti. Masa meraban ini umumnya dimulai pada usia 3 bulan. Suara-suara raban pertama yang dikeluarkan biasanya suara huruf-huruf hidup atau huruf-huruf vokal, misalnya a-a, i-i, e-e, dan sebagainya. Setelah meraban dengan huruf-huruf vokal barulah meraban dengan huruf-huruf mati atau konsonan. Konsonan pertama yang diucapkan adalah konsonan-konsonan bibir, misalnya m-m, p-p, b-b dan sebagainya. Masa meraban ini umumnya berakhir pada usia 9 atau 12 bulan.
b. Masa Kalimat Satu Kata
            Kata-kata pertama yang diucapkan oleh bayi adalah kelanjutan dari meraban. Pada umumnya kalimat satu kata yang paling awal dibicarakan oleh bayi adalah “ma” dan “pa”. Setelah itu beberapa kata tiruan, bunyi yang dimaksudkan untuk menamai binatang yang mengeluarkan bunyi tersebut. Satu kata yang diucapkan oleh bayi sebenarnya dimaksudkan sebagai satu kalimat penuh. Oleh karena itulah maka disebutkan kalimat satu kata. Misalnya kalau ia mengatakan “eong” mungkin yang dimaksud adalah “oh itu ada kucing datang” atau mungkin “bawakan kucing itu untuk teman saya”.
            Setelah kalimat tiruan bunyi menyusul kemudian kata-kata yang berkaitan dengan suatu kegiatan tertentu. Misalnya “maem” yang artinya: “bu saya minta maem”. Setelah itu barulah menyusul kata-kata benda. Misalnya “uci” yang artinya “bu saya minta duduk di kursi”. Masa kalimat satu kata ini biasanya sudah berakhir pada usia sekitar 17-19 bulan.
c. Masa Kalimat Dua Kata
            Kalimat dua kata biasanya mulai muncul pada usia 18 sampai 20 bulan. Pada masa ini dengan kecakapannnya berjalan ia makin banyak melihat segala sesuatu dan ingin mengetahui namanya. Oleh karena itu ia selalu menanyakan nama benda itu. Karena itu masa ini disebut masa “apa itu”. Beberapa kalimat dan kata yang dapat diucapkan pada masa ini antara lain adalah ; “apak acuk” (Bapak akan berangkat sekolah) “tutu aem” (Putu minta makan)” ni iing (Benda ini namanya piring) dan sebagainya. Masa kalimat dua kata ini sering juga disebut “masa haus nama”. Karena pada masa ini anak-anak selalu ingin tahu nama-nama benda yang ada disekitarnya.
c. Masa Kalimat Tiga Kata
            Kalimat tiga kata biasanya mulai muncul pada bulan ke 24 sampai ke 28. Pada masa ini biasanya anak-anak sudah mampu membuat kalimat seperti struktur kalimat orang dewasa, yaitu ada subyek, ada predikat , dan ada keterangan. Beberapa kalimat tiga kata yang dapat diucapkan pada masaa ini antara lain adalah:
-Tutu ampun yam (Putu sudah mandi)
-Apak auk aju (Bapak sedang mengenakan Baju)
-Tutu aem didi (Putu makan sendiri).
e. Masa kalimat lengkap dan kalimat majemuk
            Masa kalimat lengkap dan kalimat majemuk biasanya muncul setelah usia empat tahun. Pada masa ini anak-anak sudah dapat mengucapkan kata seperti ucapan orang dewasa (tidak pelo lagi) kecuali kata-kata yang mengandung huruf “r”.

D. Perkembangan Permainan
            Bermain merupakan aktifitas yang sangat penting bagi anak. Dengan bermain anak bisa mendapat permainan baru. Semua pengalaman yang diperoleh dalam bermain merupakan kecakapan baru bagi anak. Sehubungan dengan perkembangan permainan ini akan dibahas dua hal, yaitu : (1) Fungsi permainan dan (2) Jenis-jenis permainan.
    3.1 Fungsi Permainan
            Mengenai fungsi permainan ada beberapa teori. Berikut ini akan dibahas lebih lanjut masing-masing teori tersebut.
a. Teori Latihan  
            Menurut Karl Groos, permainan merupakan latihan  terhadap fungsi-fungsi yang akan digunakan dalam kehidupan setelah dewasa kelak. Misalnya anak wanita yang bermain boneka adalah merupakan latihan terhadap peranannya sebagai seorang ibu kelak.  
b. Teori Katarsis (pembersihan jiwa)
            Menurut Schaller dan Lazarus, permainan merupakan pembersihan (kataris) jiwa. Misalnya anak yang sedang sedih, maka dengan bermain kesedihannya dapat dihilangkan. Begitu pula anak yang sudah jenuh belajar, maka bermain dapat menghilangkan kejenuhan tersebut.
c. Teori Kelebihan Tenaga
            Menurut Herbert Spencer permainan merupakan pelepasan terhadap tenaga (energi) yang berlebihan. Sering kali energi yang diperoleh oleh manusia malalui makan melebihi kebutuhannya. Oleh karena itu pada orang bersangkutan terdapat kelebihan energi. Kelebihan energi tersebut harus disalurkan melalui cara-cara yang sesuai. Salah satu cara yang sangat sesuai adalah melalui permainan.
d. Teori Rekapitulasi
            Menurut teori rekapitulasi yang dipelopori oleh Stanley Hall, perkembangan jiwa individu (ontogenesa) merupakan ulangan dari perkembangan seluruh umat manusia (filogenesa). Toeri ini berhubungan dengan teori  biogentik yang menyatakan bahwa anak dalam perkembangan jiwanya mengalami semua fase-fase yang telah dialami oleh manusia dalam perkembangannya. Selanjutnya menurut teori ini permainan merupakan dorongan bawah sadar untuk mengulangi secara singkat sejarah bentuk-bentuk kehidupan dan aktifitas nenek moyang sejak jaman dahulu (Monks, dkk, 1985: 116-117 dab Soesilowindradini,105).
    3.2. Jenis-jenis Permainan
            Sesuai dengan teori rekapitulasi dan sesuai pula dengan fase-fase kehidupan manusia, maka jenis-jenis permainan anak-anak dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Masa Berburu
            Pada masa ini anak-anak senang bermain dengan memburu binatang-binatang, seperti memburu capung, memburu kumbang, memburu kupu-kupu dan sebagaianya.
b. Masa Beternak
            Pada masa ini anak-anak senang bermain-main dengan memelihara binatang. Misalnya memelihara kupu-kupu, memelihara jangkrik, memelihara burung dan sebagainya. Disamping gemar memelihara binatang dalam wujud yang sebenarnya anak-anak senang berpantasi menjadi peternak misalnya sepotong pelepah kepala dijadikan sapi-sapian.
c. Masa Bertani
            Pada masa ini anak-anak senang menanam tanama-tanaman. Berbagai tanaman ditanamnya, bahkan garampun ditanamnya.
d. Masa Bergadang
            Pada masa ini anak senang main dagang-dagangan. Permainan dagang-dagangan ini biasanya dilakukan secara berkelompok. Ada yang berperan sebagai pedagang dan ada yang berperan sebagai pembeli. (Sumadi Sunyobroto, 1987:80-81).

E. Perkembangan Menggambar
            Menggambar merupakan aktivitas yang sangat penting pada masa kanak-kanak. Melalui aktivitas menggambar anak mengekpresikan  segala sesuatu yang ada pada dirinya, seperti sesuatu yang diingini, atau sesuatu yang dipantasikan. Oleh karena itu gambaran anak-anak dapat dijadikan sebagai salah satu media metode proyeksi, yaitu metode untuk memahami keadaan jiwa anak-anak melalui gambar-gambar yang dibuatnya. Tehnik proyeksi yang lain adalah mengarang (puisi maupun prosa) dan permainan.
            Perkembangan menggambar anak-anak dapat dibagi dalam beberapa fase (stages). Namun perlu disadari adalah sangat sulit untuk menetapkan secara pasti kapan suatu fase berakhir dan kapan suatu fase berikutnya dimulai. Sesuai dengan perbedaan individual (individual differences), tiap individu memiliki variasi masing-masing. Dalam garis besarnya fase perkembangan menggambarkan anak-anak adalah sebagai berikut:
a. Fase Corengan (Scribbling Stage)
            Masa corengan dimulai sekitar usia 2 tahun dan berakhir sekitar usia 4 tahun. Pada masa ini anak-anak mulai membuat corengan-corengan secara tidak teratur (disorderet scribbling). Corengan-corengan tersebut bersifat universal, tidak tergantung pada ras. Mula-mula anak-anak membuat corengan tanpa memberi nama terhadap corengan yang dibuatnnya. Pada tahap berikutnya anak-anak mulai memberi nama terhadap corengan-corengan yang dibuatnya. Misalnya “ini ibu”, atau “Saya sedang lari”.
b. Masa Pra Bagan (Preschematic Stage)
            Masa pra bagan dimulai sekitar usia 4 tahun dan berakhir sekitar usia 7 tahun. Pada masa ini anak sudah bisa membuat gambar yang menyerupai bentuk-bentuk tertentu, walaupun sangat sederhana dan tidak lengkap. Misalnya kaki yang langsung keluar dari kepala, jari tangan yang hanya tiga buah dan sebagainya.
c. Fase Bagan dan selanjutnya
             Perkembangan menggambar masa bagan dan seterusnya akan dibicarakan pada bab berikutnya, karena fase-fase tersebut sudah meliputi fase anak sekolah.

F. Perkembangan Sosial
            Masa kanak-kanak sering pula disebut masa estetika karena pada masa ini anak-anak menggambarkan rasa keindahan yang antara lain dilakukan melalui kegiatan menggambar. Disamping itu masa ini merupakan masa yangg paling menyenangkan dilihat dari sudut pandang orang dewasa (anak sedang masa lucu-lucunya).
            Sejak awal masa kanak-kanak (sesudah umur satu tahun) anak mulai mencari kontak sosial dengan lingkunannya. Kontak sosial pertama adalah dengan ibunya, kemudian dengan ayahnya dan anggota-anggota keluarga yang lain.
            Sebelum usia 3 tahun, biasanya anak selalu menurut dengan perintah atau larangan ibunya atau orang dewasa lainnya. Menginjak usia 3 tahun kemauan anak mulai berkembang. Setelah usia 3 tahun anak mulai menyadari bahwa ia mempunyai kemauan sendiri seperti orang lain. Karena mulai menyadari kemauannya, anak ada dorongan untuk mencobakan kemauannya dengan jalan menentang kemauan orang lain. Karena itu kalau ibunya menyuruh ke timur, ia justru ke barat. Oleh karena itu, masa antara 3-4 tahun ini disebut sebagai masa anak keras kepala (trotzalter). Istilah lain yang diberikan adalah masa menentang atau masa memprotes.
            Masa keras kepala merupakan masa yang paling sulit dalam pendidikan, karena pada masa ini anak paling sukar untuk diarahkan. Kalau anak dibiarkan berbuat sesuai dengan kemauannya sendiri, maka sifat keras kepalanya akan berkembang terus, sehingga akan menjadi pemuda yang mau menang sendiri. Sebaliknya, kalau anak dipaksa menuruti kemauan orang tua, maka kemauannya sendiri tidak akan berkembang, sehingga anak akan menjadi pemuda yang tidak punya inisiatip, tidak bisa pernah mengambil kepautusan, dan tidak mandiri (selalu tergantung kepada orang lain). Cara yang dianjurkan pada masa ini adalah cara yang persuasif, yaitu memberi perintah/larangan sedemikian rupa, sehingga anak tidak merasa dirinya diperintah.
            Setelah usia 4 tahun, biasanya masa keras kepala sudah berakhir. Perkembangan sosial anak menjadi semakin luas. Anak mulai mengadakan kontak sosial dengan teman sebaya di luar rumah. Pada masa ini anak-anak sebaiknya diberi peluang untuk mengikuti pendidikan Taman Kanak-kanak. Secara fsikologis Taman Kanak-kanak merupakan lembaga yang penting, sebagai tempat penyesuaian dari lingkungan keluarga ke lingkungan sekolah.

G. Perkembangan Fantasi
            Pada masa kanak-kanak fantasi berkembang sangat kuat. Demikian kuatnya fantasi itu, sehingga anak tidak bisa membedakan antara realitas dengan fantasi. Kerancuan ini menyebabkan anak sering bercerita bohong yang dalam fsikologi disebut sebagai “dusta khayal”. Contoh seorang anak yang melakukan dusta khayal adalah sebagai berikut: Seorang anak berumur empat tahun bercerita pada ibunya bahwa ia melihat ular naga di pohon kelapa di depan rumahnya. Sewaktu ibunya bertanya tentang bentuk, warna, dan tingkah laku naga tersebut, anak tersebut mengemukakan jawaban sesuai dengan khayalannya, dan ia mengemukakan dengan penuh keyakinan. (Elinda Prayitno, 1992 : 47)
            Dalam menghadapi anak yang berdusta khayal, orang tua handaknya cukup bijaksana. Jangan sekali-kali memotong cerita anak dengan menyatakan bahwa anak tersebut berbohong. Sebab hal tersebut dapat mematikan daya khayal anak untuk selanjutnya.
            Pada masa ini anak-anak sering menggunakan benda-benda tidak sebagaimana mestinya, melainkan sebagaimana yang dihayalkan. Misalnya kursi tamu dijadikan super-superan.

H. Perkembangan Kognitif
            Menurut Piaget, perkembangan berpikir masa kanak-kanak termasuk stadium pra operasional. Pra berarti belum. Operasional berarti kegiatan yang dilakukan secara sistematis atas dasar logika berpikir tertentu. Ini berarti bahwa anak pada masa ini telah sanggup melakukan berbagai aktifitas, namun aktifitas yang dilakukannya tidak didasarkan atas logika berpikir tertentu.
            Berikut ini diungkapkan beberapa ciri berpikir yang menunjukkan bahwa anak belum bisa berpikir secara operasional.
a)      Belum mampu mengatur secara serial. Bila anak diberi tugas untuk mengatur beberapa tongkat-tongkat kecil yang berlaianan panjangnya, maka ia tidak mampu mengaturnya menurut panjang pendeknya tongkat tadi.
b)      Belum mampu membuat klasifikasi. Bila anak diberi sejumlah balok-balok yang mempunyai bentuk dan warna yang berbeda-beda dan bila ditanya balok-balok mana yang sama maka ia tidak dapat menjawabnya.
c)      Belum mampu membuat penafsiran dalam tiga dimensi. Bila anak dihadapkan pada penafsiran tiga dimensi maka ia akan memusatkan perhatiannya hanya pada satu dimensi saja dan mengabaikan dimensi yang lain.
Contoh : Sebuah gelas tinggi ramping dan sebuah gelas pendek besar diisi air sama banyaknya. Anak ditanya apakah air dalam dua gelas tersebut sama banyaknya atau tidak. Anak kebanyakan akan menjawab bahwa ada lebih banyak air dalam gelas yang tinggi ramping, karena air pada gelas yang tinggi ramping tersebut lebih tinggi.
d)     Berpikir egosentris, artinya anak buahnya dapat berpikir dari arah dirinya sendiri dan belum dapat berpikir dari arah orang lain. Sebagi ilustrasi dapat di berikan contoh percakapan seorang dewasa dengan anak stadium pra operasional sebagai berikut:
T: Apakah kamu punya saudara?
J: Punya
T: Siapa nama saudaramu?
J: Mita
T: Apakah Mita punya saudara?
J: Tidak
Jawaban terakhir anak tersebut menunjukkan bahwa anak hanya mampu berpikir dari arah dirinya sendiri, dan tidak dapat berpikir dari arah Mita.
(Monks, 1985 : 188 – 191)
            Satu ciri lagi stadium pra operasional adalah bahwa anak sudah bisa berpikir imitasi (peniruan). Misalnya seorang anak yang pernah melihat dokter berpraktek, akan dapat bermain dokter-dokteran (Sunarto dan Agung Hartono, 1994 : 20).

I. Perkembangan Emosi
            Perbuatan atau perilaku kita sehari-hari umumnya disertai oleh perasaan-perasaan tertentu, seperti perasaan senang atau tidak senang. Perasaan senang atau tidak senang yang selalu menyertai perbuatan kita sehari-hari disebut afeksi. Afeksi ini kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah, kadang kadang tidak jelas (samar-samar). Afeksi yang kuat disebut emosi. Contoh-contoh emosi adalah gembira, cinta, marah, dan benci. Emosi dan perasaan adalah dua hal yang berbeda. Perbedaan itu bersifat kualitatif yang berkelanjutan (kontinu) tetapi tidak jelas batasnya. Secara umum dapat dikatakan bahwa perasaan tidak diikuti oleh perubahan-perubahan pisik. Sebaliknya emosi diikuti oleh perubahan-perubahan pisik misalnya perubahan warna kulit muka, perubahan denyut jantung, perubahan pernapasan, perubahan pupil mata, perubahan kerja kelenjar, kontraksi otot dan sebagainya (Sunarto, 1994 : 127).
            Beberapa emosi yang menonjol pada masa kanak-kanak adalah sebagai berikut:
a. Rasa takut
            Rasa takut pada aanak-anak ada yang bersifat bawaan dan ada pula yang dipeorleh berdasarkan pengalaman. Menurut Mc. Dogal rasa takut bawaan itu ada tiga jenis, yaitu : (1) takut terhadap kegelapan, (2) takut jatuh dari tempat tinggi, dan (3) takut terhadap suara keras.
            Rasa takut yang diperoleh berdasarkan pengalaman biasanya terjadi karena proses conditioning, yaitu adanya suatu kondisi tertentu yang menimbulkan rasa takut. Contoh : Mula-mula anak tidak takut terhadap kelinci. Pada suatu hari ketika anak sedang asik bermain-main dibunyikan gong yang sangat keras. Anak menjadi terkejut dan selanjutnya takut dengan kelinci. Dalam contoh ini, suara gong yang keras merupakan kondisi timbulnya rasa takut terhadap kelinci.
            Rasa takut pada anak-anak seringkali pula muncul karena cerita-cerita orang tua. Seringkali pula anak menjadi takut karena melihat orang lain takut. Misalnya anak tidak takut melihat ular. Tetapi karena ibunya pada waktu itu takut, maka anaknya menjadi takut.
b. Iri Hati
Iri hati biasanya muncul pada waktu anak mendapat adik. Hal ini disebabkan karena mulai pada saat itu ia merasa perhatian kedua orang tuanya dirampas oleh adiknya yang baru lahir. Selain itu rasa iri hati juga dapat muncul kalau anak merasa bahwa orang tuanya memberikan perhatian yang lebih kepada saudaranya yang lain. 
c. Marah
Rasa marah ditimbulkan oleh keinginan yang terbendung. Ada beberapa reaksi penyaluran rasa marah seperti : memukul, menghentak-hentakan kaki, berteriak dan menangis.
d. Kasih Sayang
            Kasih sayang anak diberikan kepada siapa saja yang memberikan kegembiraan dan kepuasan kepadanya. Tidak hanya orang, tetapi binatang atau bendapun dapat mendapatkan kasih sayang anak. Kasih sayang ditujukkan dengan cara memeluk, mencium, selalu ingin berdekatan, dan bersedih bila berjauhan.

J. Perkembangan Moral
            Moral diartikan sebagai suatu aturan atau norma tentang baik dan buruk (Poerwadarmita, 1976 : 654). Norma tentang baik dan buruk yang dimaksudkan meliputi : (a) pandangan moral, (b) perasaan moral, dan (c) tingkah laku moral. Menurut Piaget dan Kohlberg, perkembangan moral pada masa kanak-kanak berada pada fase “ Pemahaman Hetronom”. Pada fase ini anak belum mempunyai pendangan moral sendiri. Tingkah laku anak sepenuhnya ditentukan oleh kemauan-kemauan yang ada di luar dirinya, khususnya kemauan orang tuanya. Tingkah laku yang baik bagi anak adalah tingkah laku yang tidak mendapat hukuman atau yang mendapat haiah atau kedua-duanya. Sebaliknya tingkah laku yang jelek adalah tingkah laku yang mendapat hukuman (Elinda Prayitno, 1992 : 73).
Dengan mengambil sudut pandang orang lain, akan membantu anak memahami apa yang benar dan apa  yang salah. Melalui interaksi anak dengan orang  lain, ia segera menangkap apa yang  diharapkan dalam situasi sosial, dan  anak akan sampai pada perkembangan sejumlah pemahaman sosial. Ketika anak berinteraksi, mereka akan  berhubungan dengan konsep tentang keadilan,  kejujuran, kewajiban, dan kebaikan. Oleh karena  itu Damon menyatakan bahwa kesadaran moral  anak diperoleh dari pengalaman sosial yang  normal.
Pada masa prasekolah, anak sering merasa  bingung dengan perilaku orang dewasa yang  kadang berbohong, karena belum mampu menilai  suatu perbuatan dari latar belakang motivasinya. Beberapa aspek dari perkembangan moral anak  usia 4 s.d 8 tahun mencakup konsep anak tentang persahabatannya dan kewajiban-kewajiban tertentu dari persahabatan, keadilan dan  kejujuran, kepatuhan, otoritas, serta hukum-hukum  sosial dan adat.
Perkembangan moral juga berkaitan dengan kekhususan budaya; kelompok budaya yang berbeda akan memiliki nilai-nilai yang berbeda  pula. Ada perbedaan antara anak perempuan dengan  anak laki-laki dalam sudut pandangnya. Banyak anak perempuan merasa lebih senang dengan  sudut pandang "memperhatikan", yang  menekankan hubungan interpersonal dan  perhatian untuk orang lain. Sedangkan anak laki-laki lebih umum menggunakan “keadilan” sebagai  sudut pandangnya.
  
BAB II
PENUTUP

Simpulan
Masa kanak-kanak disebut pula masa pra sekolah (preschool age). Disebut masa pra sekolah, karena pada masa ini anak-anak belum masuk sekolah. Pada masa kanak-kanak ini meliputi perkembangan fisik dan motorik, perkembangan bahasa, perkembangan permainan, perkembangan menggambar, perkembangan sosial, perkembangan fantasi, perkembangan kognitif, perkembangan emosi, dan perkembangan moral


PUSTAKA

Nurkancana, Wayan. 2001. Perkembangan Jasmani dan Kejiwaan. Surabaya : Usaha nasional.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar