Sabtu, 20 Juli 2013

Dampak Fertilitas Pada Pertumbuhan Penduduk Indonesia



BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Istilah fertilitas adalah sama dengan kelahiran hidup (live birth), yaitu terlepasnya bayi dari rahim seorang perempuan dengan ada tanda-tanda kehidupan; misalnya menangis, jantung berdenyut, bernafas dan sebagainya. Apabila pada waktu lahir tidak ada tanda-tanda kehidupan disebut dengan lahir mati (still birth) yang di dalam demografi tidak dianggap sebagai suatu peristiwa kelahiran. Di samping istilah fertilitas ada
juga istilah fekunditas (fecundity) sebagai petunjuk kepada kemampuan fisiologis dan biologis seorang perempuan  untuk menghasilkan anak lahir hidup.
Seorang perempuan yang secara biologis subur (fecund) tidak selalu melahirkan anak-anak yang banyak, misalnya dia mengatur fertilitas dengan abstinensi atau menggunakan alat-alat kontrasepsi. Kemampuan biologis seorang perempuan  untuk melahirkan sangat sulit untuk diukur. Ahli demografi hanya menggunakan pengukuran terhadap kelahiran hidup (live birth).
Pengukuran fertilitas lebih kompleks dibandingkan dengan pengukuran mortalitas, karena seorang perempuan hanya meninggal satu kali, tetapi ia dapat melahirkan lebih dari seorang bayi. Di samping itu seseorang yang meninggal pada hari dan waktu tertentu, berarti mulai saat itu orang tersebut tidak mempunyai resiko kematian lagi. Sebaliknya seorang perempuan yang telah melahirkan seorang anak tidak berarti resiko melahirkan dari perempuan tersebut menurun.
Kompleksnya pengukuran fertilitas, karena kelahiran melibatkan dua orang (suami dan istri), sedangkan kematian hanya melibatkan satu orang saja (orang yang meninggal). Masalah yang lain yang dijumpai dalam pengukuran fertilitas ialah tidak semua perempuan mengalami resiko melahirkan karena ada kemungkinan beberapa dari mereka tidak mendapatkan pasangan untuk berumah tangga. Juga ada beberapa perempuan yang bercerai, menjada. Memperhatikan masalah-masalah di atas, terdapat variasi pengukuran fertilitas yang dapat diterapkan, dan masing-masing mempunyai keuntungan dan kelemahan.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep-konsep dalam fertilitas?
2. Bagaimana peranan fertilitas dalam  pertumbuhan penduduk di Indonesia?
3. Mengapa pentingnya penurunan angka fertilitas di Indonesia?

C. Tujuan
1. Mengetahui konsep-konsep dalam fertilitas
2. Mengetahui peranan fertilitas dalam pertumbuhan penduduk di Indonesia
3. Mengetahui pentingnya penurunan angka fertilitas di Indonesia


BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep-konsep dalam Fertilitas
Memperhatikan perbedaan antara kematian dan kelahiran seperti tersebut pada latar belakang, memungkinkan untuk melaksanakan dua macam pengukuran fertilitas yaitu pengukuran fertilitas tahunan  dan pengukuran fertilitas kumulatif. Pengukuran fertilitas kumulatif ialah mengukur jumlah rata-rata anak yang dilahirkan oleh seorang perempuan hingga mengakhiri batas usia subur. Sedangkan pengukuran fertilitas tahunan (vital rates) ialah mengukur jumlah kelahiran pada tahun tertentu dihubungkan dengan jumlah penduduk yang mempunyai resiko untuk melahirkan pada tahun tersebut.

1. Pengukuran Fertilitas Tahunan
Pengukuran fertilitas tahunan hasilnya berlaku untuk periode waktu tertentu, seperti dalam perhitungan tingkat kelahiran kasar (CBR) di tahun 1975, akan berlaku pada periode tahun 1970-1980. Pengukuran fertilitas tahunan dapat meliputi:

1.1 Tingkat Fertilitas Kasar (Crude Birth Rate)
Tingkat fertilitas kasar didefinisikan sebagai banyaknya kelahiran hidup pada suatu tahun tertentu tiap            1000 penduduk pada pertengahan tahun, dengan rumus dapat ditulis sebagai berikut:


   CBR = P / Pm x k

 
 


 Dimana:
            CBR    = Crude Birth Rate atau Tingkat Kelahiran Kasar
            Pm       = Penduduk pertengahan tahun
             k         = Bilangan konstan yang biasanya 1.000
             B        = Jumlah kelahiran pada tahun tertentu

1.2 Tingkat Fertilitas Umum (General Fertility Rate)
Tingkat fertilitas umum yaitu perbandingan jumlah kelahiran pada tahun tertentu dengan jumlah penduduk        perempuan umur 15-49 tahun pada pertengahan tahun, dengan rumus dapat ditulis sebagai berikut:


  GFR = B / Pf (15-49) x k
 
 



Dimana:
GPR                = General Fertility Rate atau Tingkat Fertilitas Umum
Pf (15-49)        = Jumlah penduduk perempuan umur 15-49 tahun pada pertengahan tahun
B                     = Jumlah kelahiran pada tahun tertentu

1.3 Tingkat Fertilitas Menurut Umur (Age Specific Fertility Rate)


  ASFRiBi/Pfi x k
 

Di antara kelompok perempuan usia reproduksi (15-49) terdapat variasi kemampun melahirkan, karena itu perlu dihitung tingkat fertilitas perempuan pada tiap-tiap kelompok umur. Perhitungan tersebut dapat dikerjakan dengan rumus sebagai berikut:

Dimana:
ASFRi             = Tingkat Fertilitas Menurut Umur i
Bi                    = Jumlah kelahiran bayi kelompok umur i
Pfi                   = Jumlah perempuan kelompok umur i pada pertengahan tahun
k                      = angka konstanta = 1.000

1.4 Tingkat Fertilitas Menurut Urutan Kelahiran ( Birth Order Specific Fertility Rates)
Tingkat fertilitas menurut urutan kelahiran sangat penting untuk mengukur tinggi rendahnya fertilitas suatu negara. Tingkat fertilitas menurut urutan kelahiran dapat ditulis dengan rumus:


  BOSFR = Boi/Pf (15-49) x k
 
 
Dimana           
BOSFR           = Birth Order Specific Fertility Rate
Boi                  = Jumlah kelahiran urutan ke i
Pf (15-49)        = Jumlah perempuan umur 15-49 pertengahan tahun
k                      = Bilangan konstan = 1.000

1.5 Standarisasi Tingkat Fertilitas (Standardized Fertility Rates)
Teknik standarisasi yang digunakan dalam fertilitas sama dengan teknik standarisasi yang digunakan untuk pengukuran mortalitas. Kalau diketahui tingkat fertilitas menurut umur di negara A dan B, dan ingin dibandingkan tingkat kelahiran umum di kedua negara tersebut, maka tingkat fertilitas menurut umur dikalikan dengan jumlah penduduk standar dari masing-masing kelompok umur.

2. Pengukuran Fertilitas Kumulatif
Pengukuran fertilitas kumulatif yaitu mengukur rata-rata jumlah anak laki-laki dan perempuan yang dilahirkan oleh seorang perempuan pada waktu perempuan itu memasuki usia subur hingga melampui batas reproduksinya (15-49 tahun). Ada tiga macam ukuran fertilitas kumulatif yaitu:

2.1 Tingkat Fertilitas Total (Total Fertility Rates)
Tingkat fertilitas total didefinisikan jumlah kelahiran hidup laki-laki dan perempuan tiap 1.000 penduduk yang hidup hingga akhir masa reproduksinya dengan catatan, tidak ada seorang perempuan yang meninggal sebelum mengakhiri masa reproduksinya dan tingkat fertilitas menurut umur tidak berubah pada periode tertentu.
Dalam praktek Tingkat Fertilitas Total dikerjakan dengan menjumlahkan Tingkat Fertilitas Menurut Umur, apabila umur tersebut berjenjang lima tahunan, dengan asumsi bahwa tingkat fertilitas menurut umur tunggal sama dengan rata-rata tingkat fertilitas kelompok umur lima tahunan, maka rumus dari Tingkat Fertilitas Total adalah sebagai berikut:


 TFR = 5 å ASFRi
 
 
Dimana:
TFR     = Total Fertility Rate
å          = Penjumlahan tingkat fertilitas menurut umur
ASFRi = Tingkat fertilitas menurut umur ke i dari kelompok berjenjang 5 tahunan

2.2 Gross Reproduction Rates
Gross Reproduction rate ialah jumlah kelahiran bayi perempuan oleh 1.000 perempuan sepanjang masa reproduksinya dengan catatan tidak ada seorang perempuan yang meninggal sebelum mengakhiri masa reproduksinya, seperti Tingkat Fertilitas Total. Perhitungan Gross Reproduction Rate sebagai dibawah ini.


 GRR = 5 Σ ASFRfi
                    i
 
 
Dimana :
ASFRfi adalah tingkat fertilitas menurut umur ke-i dari kelompok berjenjang 5 tahunan

2.3 Net Reproduction Rates
Net Reproduction Rate ialah jumlah kelahiran bayi perempuan oleh sebuah kohor hipotesis dari 1.000 perempuan dengan memperhitungkan kemungkinan meninggalkan perempuan-perempuan itu sebelum mengakhiri masa reproduksinya. Dalam prakteknya perhitungan Net Reproduction Rate dapat didekati dengan rumus di bawah ini:


  NRR = Σ ASFRfi x  nI-x/Io
 
 



3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tinggi Rendahnya Fertilitas Penduduk
Faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya fertilitas dapat dibagi menjadi dua faktor yaitu faktor demografi dan faktor non demografi. Faktor demografi diantaranya adalah: struktur umur, struktur perkawinan, umur kawin pertama, paritas, disrupsi perkawinan dan proporsi yang kawin. Sedangkan faktor non demografi antara lain, keadaan ekonomi penduduk, tingkat pendidikan, perbaikan stasus perempuan, urbanisasi dan industrialisasi. Variabel-variabel di atas dapat berbengaruh secara langsung terhadap fertilitas, ada juga berpengaruh tidak langsung.

B. Peranan Fertilitas dalam  Pertumbuhan Penduduk di Indonesia
Berdasarkan Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk Indonesia sudah mencapai 237,6 juta jiwa atau bertambah 32,5 juta jiwa sejak tahun 2000. Artinya, setiap tahun selama periode 2000-2010, jumlah penduduk bertambah 3,25 juta jiwa. Jika di alokasikan ke setiap bulan maka setiap bulannya penduduk Indonesia bertambah sebanyak 270.833 jiwa atau sebesar 0,27 juta jiwa.
Berdasarkan jumlah tersebut, maka setiap harinya penduduk Indonesia bertambah sebesar 9.027 jiwa. Dan setiap jam terjadi pertambahan penduduk sebanyak 377 jiwa. Bahkan setiap detik jumlah pertambahan penduduk masih tergolong tinggi yaitu sebanyak 1,04 (1-2 jiwa). Pertambahan penduduk di Indonesia umumnya (bahkan bisa dikatakan 99,9 persen) disebabkan oleh kelahiran, sisanya berupa migrasi masuk. Dengan demikian dapat di simpulkan bahwa dalam 1 detik di Indonesia terjadi kelahiran bayi sebanyak 1-2 jiwa.
Jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan dengan laju pertumbuhan yang tinggi pula. Jumlah penduduk Indonesia dari tahun 1971-2010 serta pertumbuhannya dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel1
Jumlah Penduduk Indonesia Berdasarkan Sensus Penduduk Tahun 1971, 1980, 1990, 2000 dan 2010 (Juta Jiwa)
Tahun
1971
1980
1990
2000
2010
Jumlah Penduduk
119,2
147,5
179,4
205,1
237,6

Tabel 2
Laju Pertumbuhan Penduduk Indonesia Tahun 1971-2010 (Persen)
Periode
1971-1980
1980-1990
1990-2000
2000-2010
Laju Pertumbuhan
2,30
1,97
1,49
1,49
Laju pertumbuhan penduduk Indonesia tahun 2000-2010 sebesar 1,49 persen pertahun. Artinya bahwa rata-rata peningkatan jumlah penduduk indonesia per tahun dari tahun 2000 sampai 2010 adalah sebesar 1,49 persen/tahun. Hal ini menunjukkan bahwa setiap tahunnya antara tahun 2000 sampai 2010 jumlah penduduk Indonesia bertambah sebesar 1,49 persennya.
Dengan jumlah penduduk sebesar 237,6 juta jiwa tersebut, membuat Indonesia tetap sebagai negara berpenduduk terbanyak setelah RRC, India dan Amerika Serikat.

C. Pentingnya Penurunan Angka Fertilitas di Indonesia
Dengan kelahiran bayi sebanyak 1-2 jiwa dalam setiap detiknya dan laju pertumbuhan penduduk 1,49 persen pertahun serta jumlah penduduk sebesar 237,6 juta jiwa menurut sensus penduduk 2010, menunjukkan tingginya angka fertilitas di Indonesia. Kelahiran yang tinggi akan menyebabkan terjadinya berbagai masalah, seperti teori penduduk menurut Aliran Malthusian yang dipelopori oleh Thomas Robert Malthus. Menyatakan bahwa penduduk (seperti juga tumbuh-tumbuhan dan binatang) apabila tidak ada pembatasan, akan berkembang biak dengan cepat dan memenuhi dengan cepat beberapa bagian dari permukaan bumi ini.
            Di samping itu Malthus berpendapat bahwa, manusia untuk hidup memerlukan bahan makanan, sedangkan laju pertumbuhan bahan makanan jauh lebih lambat dibandingkan laju pertumbuhan penduduk. Apabila tidak ada pembatasan terhadap pertumbuhan penduduk, maka manusia akan mengalami kekurangan bahan makanan. Inilah sumber kemelaratan dan kemiskinan manusia. Seperti telah disebutkan diatas, untuk dapat keluar dari permasalahan kekurangan pangan tersebut, pertumbuhan penduduk harus dibatasi.


BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Pengukuran fertilitas dapat dilaksanakan melalui dua macam yaitu pengukuran fertilitas tahunan dan pengukuran fertilitas kumulatif, dan tinggi rendahnya fertilitas penduduk dapat dipengaruhi oleh faktor demografi dan faktor nondemografi, variabel-variabel dari kedua faktor tersebut dapat mempengaruhi secara langsung dan secara tidak langsung terhadap fertilitas, serta berdasarkan teori  penduduk menurut Aliran Malthusian, jika jumlah kelahiran tidak dibatasi akan menyebabkan terjadinya kemelaratan dan kemiskinan manusia.

B. Saran
Untuk mengurangi angka kelahiran yang tinggi, dapat dilakukan dengan peningkatan penyuluhan KB. Dengan meningkatkan penyuluhan-penyuluhan tentang KB ke masyarakat secara luas, akan lebih banyak masyarakat yang memahami pentingnya berKB dan alat/cara KB sehingga jumlah kelahiran dapat menurun.


DAFTAR PUSTAKA

Mantra, Ida Bagoes. 2003. Demografi Umum. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
http://www.data statistik indonesia.co.id

1 komentar:

  1. pelit banget ga bisa di copas .. jadinya ga membantu :p

    BalasHapus